Tugas Aqidah (Biografi Fathimah azzahra)
FATHIMAH
AZ-ZAHRA
A. PENDAHULUAN
Fatimah Az Zahra merupakan putri bungsu Rasulullah SAW dan
Sayidatina Khadijah ra. Ia lahir di Mekkah pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir
atau lima tahun sebelum Rasulullah diangkat sebagai Rasul.
Semasa hidupnya Fatimah merupakan anak yang paling dekat dengan Rasul. Ia mendapatkan julukan Az Zahra yang berarti bercahaya dan berkilau. Meski menjadi anak dari pemimpin tertinggi Islam, namun kepribadiannya begitu sederhana.
Semasa hidupnya Fatimah merupakan anak yang paling dekat dengan Rasul. Ia mendapatkan julukan Az Zahra yang berarti bercahaya dan berkilau. Meski menjadi anak dari pemimpin tertinggi Islam, namun kepribadiannya begitu sederhana.
Fatimah yang berstatus sebagai anak dari seorang ayah yang memiliki kekuasaan puncak tidak hanya hidup serba berkecukupan, namun juga berlimpah kemewahan. Akan tetapi, ia tumbuh menjadi gadis yang memiliki kepribadian sabar dan penyayang dan tidak pernah dilihat atau melihat lelaki yang bukan muhrimnya.
Rasulullah SAW sering sekali menyebutkan nama Fatimah, diantaranya beliau pernah berkata bahwa “Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia.” Ia adalah satu-satunya anak Rasulullah yang tinggal bersama beliau setelah Khadijah wafat dan menggantikan peran ibunya untuk mengurus ayahnya tersebut.
Tantangan hidup yang sangat berat telah dilalui oleh Fatimah. Mulai dari perlawanan kaum Quraisy terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah hingga cobaan ditinggal wafat oleh ibunda tercintanya. Ia mampu melewati itu semua dengan penuh kesabaran.
B. KELAHIRAN FATIMAH
Fatimah Az Zahra r.a
dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jamadil Akhir, lebih kurang lima
tahun sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Siti Fatimah Az Zahra r.a
tumbuh besar di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan sengit
antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya perjuangan para perintis
iman melawan penyembah berhala.
Kelahiran Fatimah
disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan memberikan nama
Fatimah dan julukannya Az-Zahra.
Pemimpin wanita pada
masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fatimah yang
mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan
peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai penengah ketika terjadi
perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali
Hajar Aswad setelah Ka’bah diperbaharui.
Fatimah lebih muda
dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda
dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak yang paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau bersabda :
”Fatimah
adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa
yang mengganggunya juga menggangguku.”
Di antara anak wanita
Rasulullah s.a.w, Fathimah Az-Zahra r.a, merupakan wanita paling utama
kedudukannya. Kemuliannya itu diperoleh sejak menjelang kelahirannya, yang
didampingi wanita suci sebagaiman yang diucapkan oleh Khadijah:
"Pada waktu
kelahiran Fartimah r.a, aku meminta bantuan wanita-wanita Quraish tetanggaku,
untuk menolong. Namun mereka menolak mentah-mentah sambil mengatakan bahwa aku
telah menghianati mereka dengan mendukung Muhammad. Sejenak aku bingung dan
terkejut luar biasa ketika melihat empat orang tinggi besar yang tak kukenal,
dengan lingkaran cahaya disekitar mereka mendekati aku.
Ketika mereka
mendapati aku dalam kecemasan salah seorang dari mereka menyapaku: ‘Wahai
Khadijah! Aku adalah Sarah, ibunda Ishhaq dan tiga orang yang menyapaku adalah
Maryam, Ibunda Isa, Asiah, Putri Muzahim, dan Ummu Kultsum, Saudara perempuan
Musa. Kami semua diperintah oleh Allah untuk mengajarkan ilmu keperawatan kami
jika anda bersedia". Sambil mengatakan hal tersebut, mereka semua duduk di
sekelilingku dan memberikan pelayanan kebidanan sampai putriku Fathimah r.a
lahir."
Meningkat usia 5
tahun, beliau telah ditinggal pergi ibunya. Tidak secara langsung beliau
mengantikan tempat ibunya dalm melayani, membantu dan memebela Rasulullah
s.a.w, sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dan dalam
usia yang masih kanak-kanak, beliau juga telah dihadapkan kepada berbagai macam
uji coba. Beliau melihat dan meyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish
kepada ayahandanya, sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air
mata kerana melihat penderitaan yang dialalmi ayahnya.
Fatimah Az-Zahra
tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri dari Rasulullah,
namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada masa Beliau.
Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak
pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering
sekali menyebutkan nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah
berkata
" Fatimah merupakan bidadari yang
menyerupai manusia" Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni
syurga yang paling utama.
C. PERNIKAHAN FATIMAH
Setelah Fatimah r.a mencapai usia
dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah),
banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah
Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka
beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah).”
Kemudian, Jibril as datang untuk
mengabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan
Ali bin Ali Thalib. Tak lama setelah itu, Ali datang menghadap Rasulullah
dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah. Sang ayah pun
menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan,
“Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali
kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada
Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang
pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana
pendapatmu atas pinangan ini?” Fatimah diam, lalu Rasulullah pun mengangkat
suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”
Rasulullah saw kembali menemui Ali as
sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah,
bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”
Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan
mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya
keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya,
berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga
mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.” Rasulullah mencium
keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata,
“Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan,
“Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu.”
Acara pernikahan itu berlangsung dengan
kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai
mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan
mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya,
karena Islam memerlukan pedang itu, dan tidak setuju apabila Ali menjual
perisainya.
Dengan mas kawin hanya 400
dirham, dia memulakan penghidupan dengan wanita yang sangat dimuliakan
Allah di dunia dan di akhirat. Dan ’Ali pun menikahi Fathimah, dengan
menggadaikan baju besinya kepada Ustman bin Affan itulah, dan rumah yang semula
ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Rosulullah berkeras agar ia membayar
cicilannya. Itu hutang.
Kemudian Rosulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan
Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah
sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus fidhdhah
(dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”.
Selanjutnya Rasulullah
mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan
kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari
kalian berdua kebajikan yang banyak.”
Bersuamikan Ali bin
Abi Thalib bukanlah satu kebanggaan yang menjanjikan kekayaan harta. Karena Ali
bin Abi Thalib adalah salah seorang daripada empat sahabat yang sangat rapat
dengan Rasulullah merupakan sahabat yang sangat miskin berbanding dengan yang
lain (Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan).
Namun jauh di
sanubari Rasulullah tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat mendalam
terhadap Ali bin Abi Thalib. Rasulullah pernah bersabda kepada Ali bin Abi
Thalib, “Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku engkau
lebih mulia daripada dia.” (HR Abu Hurairah).
Dengan demikian
wanita pilihan untuk lelaki pilihan. Fatimah mewarisi akhlak ibunya Siti
Khadijah. Tidak pernah membebani dan menyakiti suami dengan kata-kata atau
sikap. Senantiasa senyum menyambut kepulangan suami hingga hilang separuh
masalah suaminya.
D. WAFATNYA FATIMAH AZ-ZAHRA
Hari ketiga Ramadan adalah hari wafatnya anak
kesayangan baginda Nabi Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra. Fatimah yang juga istri
Ali bin Abu Thalib, ini wafat pada 3 Ramadan tahun 11 Hijriah atau 23 November
632 Masehi. Dia dimakamkan pemakaman Baqi, Madinah.
Kepergian ibu dari Hasan dan Husein sungguh menyayat hati dan mengharu biru. Fatimah sebenarnya sudah tahu kapan dirinya akan dipanggil Ilahi.
Alkisah saat Rasulullah terbaring sakit, Fatimah tak henti-hentinya bersedih. Rasulullah pun membisikkan sesuatu ke telinga anaknya.
"Aku akan pergi tetapi engkau pertama yang akan menyusul," ujar Rasulullah dikutip dalam buku Fatimah Az-Zahra karya Sibel Eraslan, Rabu (17/5).
Sontak raut muka Fatimah menjadi senang karena keriduannya kepada ayahanda pasti segera tertambat. Banyak yang ingin tahu apa yang Rasulullah bisikkan kepada Fatimah, namun ditanya berapa kalipun Fatimah bergeming.
Fatimah menyadari ajalnya makin dekat, saat itu dia menemui ayahnya dalam mimpi. "Wahai Fatimah! aku datang untuk memberi kabar gembira kepadamu. Telah datang saat terputusnya takdir kehidupannya di dunia ini, putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah bagaimana kalau besok malam kamu menjadi tamuku?"
Sebelum meninggal, Fatimah berlaku tidak biasa di dalam rumah dia menyisir Hasan dan Husein dengan air mawar dan hati terus bergetar karena tahu dia akan meninggalkan dua buah hatinya. Dia dekap Hasan dan Husein dan diciuminya dalam-dalam.
Ali termenung dan terus memandangi belahan hatinya tersebut. lantas Fatimah berkata, "Wahai Ali. Bersabarlah untuk deritamu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Jangan engkau melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kekasihku, suamiku, teman hidupku yang terbaik, teman diriku berbagi derita dan teman perjalananku"
Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan. Fatimah lalu meminta kedua anaknya berziarah ke pemakaman Baki. Anak-anaknya menurut. Untuk terakhir kali Fatimah memandang Ali "Halal semua atasku wahai cahaya kedua mataku," ujar Fatimah memohon maaf.
Fatimah berbaring dan menyuruh Asma binti Umais menyiapkan keperluan dan makanan. Tak disangka beberapa waktu sebelum ditariknya nyawa Fatimah, dua anaknya kembali ke rumah. Fatimah pun menyuruh lagi keduanya pergi ke Raudah, dia tidak ingin anaknya sedih melihatnya menghadap Ilahi.
Dalam kesakitannya, Fatimah berbisik kepada Ali. Dia menitipkan wasiat kepada Ali, yaitu permohonan maaf kepada Ali, meminta Ali mencintai kedua anaknya, meminta dirinya dimakamkan pada malam hari agar saat dikebumikan tidak banyak dilihat manusia, dan meminta Ali untuk sering mengunjungi makamnya.
Kepergian ibu dari Hasan dan Husein sungguh menyayat hati dan mengharu biru. Fatimah sebenarnya sudah tahu kapan dirinya akan dipanggil Ilahi.
Alkisah saat Rasulullah terbaring sakit, Fatimah tak henti-hentinya bersedih. Rasulullah pun membisikkan sesuatu ke telinga anaknya.
"Aku akan pergi tetapi engkau pertama yang akan menyusul," ujar Rasulullah dikutip dalam buku Fatimah Az-Zahra karya Sibel Eraslan, Rabu (17/5).
Sontak raut muka Fatimah menjadi senang karena keriduannya kepada ayahanda pasti segera tertambat. Banyak yang ingin tahu apa yang Rasulullah bisikkan kepada Fatimah, namun ditanya berapa kalipun Fatimah bergeming.
Fatimah menyadari ajalnya makin dekat, saat itu dia menemui ayahnya dalam mimpi. "Wahai Fatimah! aku datang untuk memberi kabar gembira kepadamu. Telah datang saat terputusnya takdir kehidupannya di dunia ini, putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah bagaimana kalau besok malam kamu menjadi tamuku?"
Sebelum meninggal, Fatimah berlaku tidak biasa di dalam rumah dia menyisir Hasan dan Husein dengan air mawar dan hati terus bergetar karena tahu dia akan meninggalkan dua buah hatinya. Dia dekap Hasan dan Husein dan diciuminya dalam-dalam.
Ali termenung dan terus memandangi belahan hatinya tersebut. lantas Fatimah berkata, "Wahai Ali. Bersabarlah untuk deritamu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Jangan engkau melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kekasihku, suamiku, teman hidupku yang terbaik, teman diriku berbagi derita dan teman perjalananku"
Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan. Fatimah lalu meminta kedua anaknya berziarah ke pemakaman Baki. Anak-anaknya menurut. Untuk terakhir kali Fatimah memandang Ali "Halal semua atasku wahai cahaya kedua mataku," ujar Fatimah memohon maaf.
Fatimah berbaring dan menyuruh Asma binti Umais menyiapkan keperluan dan makanan. Tak disangka beberapa waktu sebelum ditariknya nyawa Fatimah, dua anaknya kembali ke rumah. Fatimah pun menyuruh lagi keduanya pergi ke Raudah, dia tidak ingin anaknya sedih melihatnya menghadap Ilahi.
Dalam kesakitannya, Fatimah berbisik kepada Ali. Dia menitipkan wasiat kepada Ali, yaitu permohonan maaf kepada Ali, meminta Ali mencintai kedua anaknya, meminta dirinya dimakamkan pada malam hari agar saat dikebumikan tidak banyak dilihat manusia, dan meminta Ali untuk sering mengunjungi makamnya.
Saat menitipkan wasiat, tiba-tiba dua anaknya kembali dari Raudah. Sadar kondisi ibunya, mereka mendekap Fatimah erat-erat. Fatimah meminta keduanya agar jangan berpaling di jalan Al-Quran, jalan Rasulullah dan melawan ayahnya.
Fatimah meminta semua orang keluar dari kamarnya,
dia hendak menyendiri dan ingin bersama tuhannya. Fatimah berpesan jika tidak
ada lagi sahutan dari dalam kamar maka jiwanya telah hilang. Dalam sekejap
Madinah telah kehilangan mawarnya saat Fatimah kembali keharibaan tuhan.
E. MENELADANI AKHLAK DARI FATIMAH
AZ-ZAHRA
|
Keutamaan
dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah as bukan hanya disebabkan ia
adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan
dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Di samping
itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah Zahra as mengungkapkan
sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang bisa menghambat
seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia, baik laki-laki
maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.
Allah swt memberikan akal, kekuatan untuk memilih jalan hidup yang benar dan kemampuan untuk memahami hakikat alam semesta, kepada lelaki dan perempuan tanpa perbedaan. Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah. Fatimah dilahirkan di tengah masyarakat yang tidak mengenal nilai-nilai luhur ilahi, penuh dengan kebodohan dan khurafat. Tradisi batil semacam membangga-banggakan diri, mengubur hidup-hidup anak perempuan, pertumpahan darah dan peperangan menjadi budaya yang telah berakar pinak dalam masyarakat Arab jahiliyah saat itu. Karena itu, Rasulullah saw pun akhirnya bangkit menyuarakan pesan-pesan suci Islam, menentang tradisi jahiliyah dan diskriminasi gender. Di tengah masyarakat terbelakang semacam itulah, kehadiran Fatimah, putri Rasulullah menjadi tolak ukur perempuan muslim. Rasulullah saw, begitu menghormati Sayyidah Fatimah. Sebegitu mulianya akhlak Sayidah Fatimah itu, sampai-sampai Rasulullah saw senantiasa memuji dan menjadikannya sebagai putri yang paling ia sayangi dan cintai. Rasulullah saw bersabda: "Fatimah as adalah belahan jiwaku. Dia adalah malaikat berwajah manusia. Setiap kali aku merindukan aroma surga, aku pun mencium putriku, Fatimah". Suatu ketika, Rasulullah saw kepada putrinya itu berkata, "Wahai Zahra, Allah swt telah memilihmu, menghiasimu dengan pengetahuan yang sempurna dan mengistimewakanmu dari kaum perempuan dunia lainnya".
Dengan
cara itu, Rasulullah sejatinya tengah memerangi pandangan jahiliyah yang
melecehkan kaum perempuan. Beliau sangat menentang tindakan yang menghina
kaum perempuan. Beliau tak segan-segan mencium tangan putrinya, padahal di
masa itu, memiliki anak perempuan merupakan hal yang hina bagi seorang bapak.
Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saw. Setiap kali Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah swt. Ketika Rasulullah saw berkata kepadanya, "Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku". Namun Fatimah menjawab, "Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah swt". Masa kanak-kanak Fatimah berlangsung di masa-masa dakwah Islam yang paling sulit. Puncak kesulitan itu terjadi di masa tiga tahun pemboikotan keluarga Bani Hasyim di Syi'b Abu Thalib yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Tragisnya lagi di masa yang demikian sulit itu, Fatimah mesti kehilangan ibunda tercintanya, Sayyidah Khadijah as. Kepergian sang ibunda, membuat tanggung jawab Sayyidah Fatimah untuk merawat ayahandanya, Rasulullah saw kian bertambah. Di masa-masa yang penuh dengan cobaan dan tantangan itu, Sayyidah Fatimah menyaksikan secara langsung pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan ayahandanya demi tegaknya agama ilahi. Begitu juga dengan masa-masa awal pernikahannya dengan Imam Ali as saat berada di Madinah. Di masa itu, Sayyidah Fatimah juga melewati masa-masa sulit peperangan dengan kaum musyrikin. Ia pun selalu menjadi tumpuan hati Imam Ali di masa-masa yang sangat kritis saat itu. Saat suaminya pergi ke medan laga, ia menangani seluruh urusan rumah tangganya, merawat dan mendidik putra-putrinya sebaik mungkin. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia senantiasa berusaha menjadi pendamping yang selalu tulus mendukung perjuangan Rasulullah, dan suaminya, Imam Ali as dalam menegakkan ajaran Islam. Pasca wafatnya Rasulullah saw, umat Islam berada dalam situasi perselisihan yang amat krusial dan terancam pecah serta terjerumus dalam kesesatan. Namun dengan pemikiran yang jernih, Sayyidah Fatimah membaca kondisi umat Islam saat itu dengan penuh bijaksana, namun ia pun tak segan-segan untuk mengungkapkan titik lemah dan kelebihan umat Islam di masa itu. Dia sangat mengkhwatirkan masa depan umat dan memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap faktor-faktor yang bisa menyesatkan umat. Dalam khotbah bersejarahnya, pasca kepergian Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah as menegaskan bahwa jalan yang bisa menyelamatkan manusia adalah berpegang diri pada agama ilahi dan menaati perintah-perintahnya. |
|
F. KESIMPULAN
Fatimah
adalah putri tercinta rasul yang sangat disayangi oleh Rasulullah. Beliau
sangat mirip dengan rasul dari cara bicaranya, cara berjalannya, dan lain-lain.
Beliau juga sangat menyayangi Rasul. Sejak kecil beliau sudah mendukung dan
membela Rasul disaat musuh- musuh islam mengolok-olok Rasul. Fatimah kecil akan
menangis bila melihat ayahnya diperlakukan secara keji oleh orang-orang kafir
quraisy. Kisah cintanya dengan Ali bin abi thalib juga tak kalah menakjubkan.
Sebuah riwayat mengatakan bahwa hanya fatimah,ali dan Allah saja yang tahu
mengenai cinta yang ada di hati mereka. Cinta mereka sungguh mulia karena
didasari oleh kecintaan mereka terhadap Allah SWT.
Komentar
Posting Komentar